Jum'at, 20 November 2009.
Di hari itu saya belajar banyak. Belajar bahwa orang dewasa tidak selamanya benar.
Belajar bahwa seorang anak juga memiliki suara. Belajar bahwa seorang dewasa juga harus mendengarkan suara seorang anak. Bahwa mereka juga memiliki pilihan.
Mengapa kita yang marasa sudah dewasa merasa diri kita ini selalu benar jika kita berhadapan dengan seorang anak? Merasa kita menjadi orang yang sangat tahu. Merasa bahwa pilihan kita adalah pilihan yang sangat tepat buat anak-anak kita.
Kita sebagai orang dewasa memang terlahir lebih dulu daripada mereka, sehingga kita memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak daripada mereka. Tetapi apakah itu bisa menjadi jaminan bahwa kita ada di posisi yang selalu benar?
Mengapa orang dewasa begitu gampangnya memberi hukuman jika seorang anak berbuat salah, tanpa ingin mengetahui kenapa anak tersebut berbuat salah. Sepertinya kita sebagai orang dewasa tidak belajar dari pengalaman yang sudah kita dapat. Pengalaman dimana saat seumur merekapun kita ingin sekali didengar.
Saya memang belum menjadi orang tua dari seorang anak. Tetapi murid-murid saya ternyata telah menjadi guru dalam hal ini. Dari murid-murid yang semuanya ada di usia remaja inilah saya banyak belajar bahwa seorang anak/remaja ingin sekali suaranya didengar. Mereka ingin sekali kita tahu bahwa mereka juga memiliki pilihan.
Memang piihan mereka tidak selamanya baik. Tetapi tugas kitalah sebagai orang dewasa untuk mengarahkan mereka kepada pilihan yang tepat. Tetapi apakah kita juga yang harus menentukan pilihan itu? Bukankah lebih baik jika kita memberikan banyak pilihan kepada mereka dengan menjelaskan akibat-akibat dari pilihan tersebut, sehingga mereka bisa memilih sendiri mana pilihan yang paling baik menurut mereka (dan bukan menurut orang dewasa), sehingga mereka bisa bertanggung jawab terhadap pilihannya?
Saya tahu ini akan menjadi pemikiran yang kontroversi. Terlebih pendapat ini dituliskan oleh seorang yang belum menjadi orang tua dari seorang anak.
Tapi paling tidak saya ingin berbagi tentang bagaimana keadaan murid-murid saya yang semuanya ada di usia remaja (yang mudah-mudahan bisa mewakili remaja lainnya).
Di usia remaja inilah mereka mulai berani untuk melanggar peraturan. Di usia inilah mereka berani mencoba hal-hal yang baru. Di usia inilah mereka mulai mengenal dan dekat dengan lawan jenis.
Dan ketika mereka melanggar paraturan, kita sebagai orang dewasa akan sangat terkejut. Bagaimana tidak? Anak kita yang dulunya sangat manis, ketika mereka beranjak remaja menjadi seorang pembangkang. Mereka yang tadinya selalu terbuka pada kita menjadi sangat tertutup dan lebih suka berbagi dengan temannya.
Setelah itu apa yang terjadi? Anak dan orang tua seperti layaknya musuh. Orang tua hanya berkata "tidak boleh ini" atau "tidak boleh itu" tanpa menjelaskan "kenapa tidak boleh" dan apa akibatnya.
Mengapa orang tua tidak berusaha untuk menjadikan mereka teman? Bukankah dengan menjadikan mereka teman kita dapat dijadikan sebagai tempat mereka berbagi sehingga kita bisa menasehati mereka dengan cara baik-baik dan saling mendengarkan satu sama lain?
Teman-teman sesama "orang dewasa"...sekali lagi ini hanyalah hasil pemikiran saya berdasarkan apa yang saya alami di tempat mengajar. Dan saya yakin pasti ada yang tidak sependapat dengan saya. Saya justru senang jika ada pendapat yang lain sehingga saya bisa menggabungkan pendapat-pendapat tersebut dan kemudian mengambil benang merahnya.
Terima kasih murid-muridku...tanpa disadari kalian juga bisa menjadi guru yang sangat baik.
I'm proud of you...walaupun mereka bilang kalian bersalah (dan memang kalian salah) tetapi sesungguhnya itu adalah pelajaran yang sangat berharga. Kalian berani mengakui kesalahan dan siap untuk bertanggung jawab. Kalian paksa kami, para guru, untuk mendengar jeritan hati kalian. Itu semakin menyadarkan saya (entah yang lain) dan saya makin yakin kalau kalian juga "manusia" yang punya "hati".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar