Senin, 07 Juni 2010
PELABUHAN HATIKU
Ternyata tak mampu membuatku rindu
Dua puluh satu hari berpisah denganmu
Ternyata tak sanggup menggugah cintaku padamu
Tak ada lagi rindu itu
Tak ada lagi cinta itu
Tak ada lagi rasa saling itu
Beku sudah hatiku
Rasaku kau bunuh perlahan
Aku mati suri kini
Hidup tapi mati
Dan ketika rindu dan cinta itu sudah mati
Ketika kau dan aku laksana air dan minyak yang berbeda massa jenis
Ketika jalan yang kita ambil telah berbeda arah dan tujuan
Janganlah kau paksa aku untuk tetap bersamamu
Tak ingin lagi kulabuhkan hatiku padamu kini
Entah nanti
Yang kuingin hanyalah membentangkan layar hatiku seorang diri
Jauh di lautan bebas
Dimana hukum internasionalpun tak berlaku
Biar kurengkuh buih-buih cintaku yang baru
Lalu kulabuhkan hatiku
Di suatu tempat
Dimana tiada yang mengenaliku
Rabu, 05 Mei 2010
SAHABAT KECILKU
Rabu, 03 Februari 2010
02022010
Berita yang kudengar itu telah membuatku terhempas lagi. Kandas. Pukulannya sangatlah kuat dan telah berhasil membuatku terjerembab ke dasar jurang yang dalam.
Hancur aku dibuatnya. Tulang-tulangku serasa terlepas dari persendian. Aku tak sanggup untuk bangkit. Aku terkapar di dasar jurang sambil merintih kesakitan.
Dalam rintihan aku berkata, "Ya Allah...mengapa Kau pukul aku dengan pukulan yang lebih keras dari biasanya? Jurus yang Kau pakai masihlah sama. Tapi terasa lebih keras kali ini. Ya Allah...aku perlu kekuatan lebih untuk menerima pukulanmu kali ini. Tapi dimana aku bisa dapatkan kekuatan itu kecuali dari Engkau, ya Allah..."
Ya...di hari itu Allah telah memukulku. Lagi. Pukulan yang aku yakin akan membuatku lebih dekat denganNya. Dan aku tahu , Dia akan selalu membantuku.
Dan benar saja. Dia mengirimkan bantuanNya untukku. Dia mengirimkanmu padaku. Kau bantu aku sembuhkan luka-lukaku. Kau pasangkan lagi tulang-tulangku pada sendi-sendinya. Kau bantu aku untuk duduk, kemudian berdiri.
Aku coba untuk berjalan kembali, walau masih terasa nyeri di sendi-sendi kakiku. Tapi kau dengan sabar telah menjadi tongkat yang membantuku berjalan.
Dan setelah aku dapat berjalan, dan kemudian berlari, kini yang aku harus hadapi adalah bagaimana aku harus sampai ke bibir jurang di atas sana.
Lalu aku kebingungan, saat aku menyadari bahwa aku harus mendaki sangat jauh. Hatiku ciut. Badanku gemetar. Dan kau mengetahui itu.
Lalu kau berkata, "Jangan takut. Akan aku temani kamu. Aku yakin kekuatan yang ada padamu akan sanggup membawamu ke sana. Jangan khawatir. Kita akan mendakinya bersama."
"Ya. Aku akan mendakinya. Bersamamu. Karena kamu kekuatanku," kukatakan itu walau ragu akan kemampuanku.
"Hey...aku sudah menemanimu di dua jurang sebelumnya. Aku tahu kamu kuat. Dan kamu pasti sudah semakin kuat di jurang yang ketiga ini," katanya sambil menggenggam erat kedua tanganku.
Dan pendakian itu dimulailah. Perlahan tapi pasti.
Samar kudengar gaung dari teriakan teman-temanku di atas sana. Tak kuduga mereka begitu antusias menyemangatiku, sehingga aku ingin mempercepat pendakian itu.
*Teman-temanku...tunggu aku di atas. Tetaplah beri aku semangt...
*Ayah...terima kasih telah menemaniku dalam pendakian ini...
Rabu, 20 Januari 2010
AKU CINTA KAMU...

Aku cinta kamu...
Kamu tahu itu...
Tapi aku tak kan berhenti mengatakannya...
Karena kata-kata itu keluar dari hatiku...
Aku rindu kamu...
Kamu tahu itu...
Tapi aku tak mau berhenti merinduimu...
Seperti aku merindui hadirnya sang Raja Siang...
Aku cinta kamu...
Dan kamu tahu itu...
Tapi aku tak mau berhenti mengucapkannya...
Karena aku tak mau berhenti mencintaimu...
teruntuk teman-temanku...semoga kita selalu bersama...
Senin, 18 Januari 2010
TERIMA KASIH TELAH MEMBUATKU MENANGIS...
Kenapa kamu seperti membenciku
Apa salahku?
Seingatku aku tak pernah menjahati kamu
Tatapanmu terlihat penuh kebencian
Saat melihatku bagaikan melihat sesosok yang menyebalkan
Lalu aku menanyai diriku
Kenapa dia?
Kenapa dia melihatku seperti itu?
Apa ada yang salah denganku?
Kata-katamu penuh caci maki padaku
Entah sudah berapa kali kau mengejekku
Dan selalu aku menanyai diriku
Salah apa aku?
Ketika buku tulisku yang bersampul batik itu ada di tanganmu
Seketika itu juga kau lemparkan ke teman-temanmu
Dan aku menanyai diriku
Salah apa bukuku?
Aku geram
Kemarahanku yang terpendam memuncak saat itu juga
Lalu kurampas bukuku dari tanganmu dan tangan teman-temanmu
Kusobek dia sebagai pelampiasan marahku

Lalu sungai bening itu mengalir dari mataku
Marah yang teredam sekian lama rupanya tak ingin bersembunyi lagi
Kuluapkan segala amarahku dalam sungai itu
Tak ada kata maaf darimu
Tak apa
Akupun tak terlalu berharap
Tak ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku
Tak apa
Tapi suatu hari aku akan menanyakannya padamu
Walaupun aku harus menunggu lebih dari dua dekade...
Minggu, 17 Januari 2010
PERTEMUAN SETELAH 22 TAHUN
Rencana semacam ini sebenarnya sudah ada sejak hampir dua tahun yang lalu. Ketika itu hampir setengah angkatan dari Alumni SD Kemala Bhayangkari 3 tahun 1988 yang menjadi korban penipuan oleh seorang teman seangkatan. Setelah cross check ke beberapa teman akhirnya malah timbul ide untuk bikin acara kumpul-kumpul (terkadang aku malah merasa berterima kasih pada teman yang satu itu. Karena kalau tidak ada kejadian itu mungkin saja acara kumpul-kumpul itu tidak akan terjadi).
Pertemuan pertama : Chatter Box Citos. Tidak terlalu banyak yang datang. Hanya sekitar lima belas orang. Tapi rame....
Pertemuan kedua : Citos lagi...dilanjutkan dengan acara karaoke (untuk yang ini aku ga ikut acara karaokenya).
Pertemuan ketiga : Halal bihalal di Pejaten Village (aku ga ikut)
Desember 2009 : Bu Bartono (guru kesenian kami) meninggal dunia. Sedih banget rasanya. Karena belum kesampaian berkumpul dengan guru-guru.
Hari itu juga, ketika chat dengan Dina via FB, muncullah ide untuk datang mampir ke sekolah dan bikin acara makan siang dengan guru-guru. Sebuah acara sederhana sepertinya.
Setelah ide terlontar : beberapa teman berkumpul dan kemudian terbentuklah panitia reuni angkatan '88. Idenya begini... Nanti pelaksanaannya begini... Ngadainnya di sini ya.... Iuran per anak segini... Bikin kaos juga... Panitia sudah heboh duluan.
Seminggu sebelum pelaksanaan : Semangat membara. Kobaran api semangatnya terlihat di lalu lintas thread yang dibuat di FB. Saling berbalas pesan sampai membuat baterai handphone/BB cepat habis. Telepon teman-teman yang mau ikut dan belum bayar membuat pulsa terkuras.
Mendekati hari pelaksanaan : salah satu panitia mendadak harus keluar kota. Semangat itu runtuh dengan sendirinya. Lemas. Seperti copot sendi-sendi di sekujur badan.
Aku langsung menulis :
Untuk kesekian kalinya kupandangi thread ini...
Sepi...
Tak kudengar lagi ocehan teman-temanku
Tak kulihat lagi bara api semangat itu
Sunyi....
Seperti hilangnya separuh nafas
Seperti perginya belahan jiwa
Alhamdulillah...semangat itu muncul lagi.
Sabtu, 16 Januari 2010 : sekali lagi Alhamdulillah. Acara itu terjadi juga. Lancar. Senang rasanya bertemu lagi dengan para guru. Ada tawa disitu. Ada isak tangis juga. Kartu-kartupun terbuka. Rahasia-rahasia yang tersimpan selama 22 tahun terbongkar. Kenangan 22 tahun yang lalu terkuak kembali. Rasanya kami ada di masa itu lagi.
Andai waktu tak berbatas di hari itu, ingin rasanya berlama-lama bersama guru-guru kami. Tapi apa daya, ternyata waktu berbatas.
Guruku....sejauh apapun rentang waktu memisahkan, tak kan membuatku lupa akan jasa-jasamu... Terima kasih guruku... Semoga ada kali lain kita bersama...