Masih lekat di pelupuk mataku
Tangismu di pelukku
Senyummu dalam dekapku
Untuk sesaat kau buat aku bahagia
Sangat
Lalu aku harus menyerahkanmu ke langit
Lagi
Sedihku dalam bahagia
Tapi akan kujemput dirimu lagi
Bila saatnya tiba...
Masih lekat di pelupuk mataku
Tangismu di pelukku
Senyummu dalam dekapku
Untuk sesaat kau buat aku bahagia
Sangat
Lalu aku harus menyerahkanmu ke langit
Lagi
Sedihku dalam bahagia
Tapi akan kujemput dirimu lagi
Bila saatnya tiba...
Memendam kerinduan yang teramat sangat
Mencoba menipu dunia dengan mengukir senyuman
Berpikir keras tuk temukan pengganti cahaya mata yang meredup
Sesaat tipu daya itu berhasil
Entah sampai kapan akan terus menipu
Penantian ini belum terlihat ujungnya
Sabar ini terus diuji
Keikhlasan ini butuh pembuktian
Aku ingin berangkat tua hanya denganmu
Menjadi saksi dari berkerutnya kulitmu
Dan menjadi orang Yang menyisiri rambutmu yang memutih
Aku ingin hanya kamu yang menjadi tongkatku nanti
Menemani langkah kakiku yang melemah dari hari ke hari
Aku ingin hanya kamu yang menemaniku duduk di teras rumah
Sambil menertawai koleksi Asterixmu
“Mengapa Asterix?” tanyamu
Karena kita dan Asterix punya persamaan
Menua, tapi masih punya jiwa anak-anak
Dan ketika kita lihat sepasang kakek nenek bergandengan tangan
Selalu saja terbersit pikiran
“Apakah kita akan sampai pada masa itu?
Aku hanya ingin melewati fase itu hanya denganmu”
Lalu kamu berkata,
“Aku ingin hanya ada kamu dan orang-orang yang kucinta
Saat malaikat maut menjemputku
Aku ingin menggenggam tanganmu saat aku pergi”