Berita yang kudengar itu telah membuatku terhempas lagi. Kandas. Pukulannya sangatlah kuat dan telah berhasil membuatku terjerembab ke dasar jurang yang dalam.
Hancur aku dibuatnya. Tulang-tulangku serasa terlepas dari persendian. Aku tak sanggup untuk bangkit. Aku terkapar di dasar jurang sambil merintih kesakitan.
Dalam rintihan aku berkata, "Ya Allah...mengapa Kau pukul aku dengan pukulan yang lebih keras dari biasanya? Jurus yang Kau pakai masihlah sama. Tapi terasa lebih keras kali ini. Ya Allah...aku perlu kekuatan lebih untuk menerima pukulanmu kali ini. Tapi dimana aku bisa dapatkan kekuatan itu kecuali dari Engkau, ya Allah..."
Ya...di hari itu Allah telah memukulku. Lagi. Pukulan yang aku yakin akan membuatku lebih dekat denganNya. Dan aku tahu , Dia akan selalu membantuku.
Dan benar saja. Dia mengirimkan bantuanNya untukku. Dia mengirimkanmu padaku. Kau bantu aku sembuhkan luka-lukaku. Kau pasangkan lagi tulang-tulangku pada sendi-sendinya. Kau bantu aku untuk duduk, kemudian berdiri.
Aku coba untuk berjalan kembali, walau masih terasa nyeri di sendi-sendi kakiku. Tapi kau dengan sabar telah menjadi tongkat yang membantuku berjalan.
Dan setelah aku dapat berjalan, dan kemudian berlari, kini yang aku harus hadapi adalah bagaimana aku harus sampai ke bibir jurang di atas sana.
Lalu aku kebingungan, saat aku menyadari bahwa aku harus mendaki sangat jauh. Hatiku ciut. Badanku gemetar. Dan kau mengetahui itu.
Lalu kau berkata, "Jangan takut. Akan aku temani kamu. Aku yakin kekuatan yang ada padamu akan sanggup membawamu ke sana. Jangan khawatir. Kita akan mendakinya bersama."
"Ya. Aku akan mendakinya. Bersamamu. Karena kamu kekuatanku," kukatakan itu walau ragu akan kemampuanku.
"Hey...aku sudah menemanimu di dua jurang sebelumnya. Aku tahu kamu kuat. Dan kamu pasti sudah semakin kuat di jurang yang ketiga ini," katanya sambil menggenggam erat kedua tanganku.
Dan pendakian itu dimulailah. Perlahan tapi pasti.
Samar kudengar gaung dari teriakan teman-temanku di atas sana. Tak kuduga mereka begitu antusias menyemangatiku, sehingga aku ingin mempercepat pendakian itu.
*Teman-temanku...tunggu aku di atas. Tetaplah beri aku semangt...
*Ayah...terima kasih telah menemaniku dalam pendakian ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar