
Suatu pagi di bulan Oktober 2004, di sebuah rumah sakit swasta di selatan Jakarta...
Jam 06.00 pagi, ruang bedahnya sudah menungguku...ruangan yang sangat dingin. Masuk kembali ke ruangan yang sama seperti pada tahun 2001, dengan dokter yang sama. Pasrah sudah hari itu.
Setelah obat bius melolosi setengah dari tubuhku, dan obat tidur meracuni mata dan syarafku, ketidaksadaran menyelimutiku.
Satu jam berlalu...aku terbangun. Menggigil kedinginan di ruang pemulihan, diantara sadar dan tidak. Kutengok sisi kiriku. Ibu... setia menemaniku. Mengusap keningku. Tanpa sadar sungai bening ini mengalir. Begitu sangat kurasakan kasih sayangnya. Sepertinya dia tahu kalau sungai bening ini akan terus mengalir, karena aku harus menunggu mukjizat dari Tuhan. Sampai sekarang.
Di hari itu, untuk kesekian kalinya aku disadarkan oleh Tuhan akan kasih sayang ibuku. Dengan berbagai cara Tuhan menyadarkanku.
Pernah kulihat ibu berkaca-kaca matanya, menangis bahagia, saat aku membawa pulang piagam penghargaan dari sekolah karena aku mendapat ranking 3 saat aku kelas 3 sekolah dasar. Kurasakan pelukan hangat ibuku, saat dia berselisih faham dengan bapakku. Kulihat matanya berkaca-kaca saat dia melepaskanku untuk menjalin hidup dengan seorang laki-laki. Kulihat senyuman bahagianya, saat dia melihatku diwisuda.
Sangat banyak yang aku rasakan, walau sangat jarang aku sadari...
Ibu....aku sayang ibu...
(sungai itu mengalir lagi, ibu...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar